Rabu, 26 Agustus 2026

STIMULASI TUMBUH KEMBANG MELALUI PERAYAAN HUT KEMERDEKAAN RI KE 81 WARGA LORONG 17 – 18 BLOK A PERUMAHAN PESONA KAHURIPAN 4

 

Warga Lorong 17 - 18 Blok A Perumahan Pesona Kahuripan 4

Pada perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81 ada yang berbeda. Kegiatannya sangat sederhana, namun kaya makna dan manfaat terutama untuk menstimulasi tumbuh kembang, bukan hanya pada anak, yang punya anak pun tumbuh kembangnya ikut terstimulasi.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh warga lorong 17 – 18 Blok A Perumahan Pesona Kahuripan 4 (PK4) Desa Bojong, Kecamatan Klapa Nunggal, Bogor Jawa Barat. Mereka bersama – sama mengadakannya dalam rangka merayakan HUT RI yang ke 81

Acara yang sudah direncanakan dari jauh hari tersebut dilaksanakan di daerah Cipanas Jawa Barat selama dua hari satu malam. Berangkat dari PK 4 pada pagi hari Sabtu 15 Agustus 2026 menggunakan mobil – mobil pribadi dan kembali pada hari Minggu16 Agustus 2026.

Bapak – bapak, ibu – ibu, anak – anak, remaja, bahkan bujangan pun berangkat bersama menuju lokasi melalui jalur Desa Suka Makmur atau gunung luhur yang merupakan jalan alternatif menuju kawasan puncak.

                                                   (video saat keberangkatan dari lorong 17 -18)

Sesampainya di lokasi, setelah pembukaan dan doa bersama, mereka mengikuti kegiatan lomba yang diadakan oleh panitia. Bukan hanya anak – anak, semua peserta ikut lomba layaknya perlombaan Agustusan di lingkungan RT.

Sebelum dilanjutkan penulis perlu sampaikan, pada catatan non ilmiah singkat ini penulis tidak menceritakan alur kegiatan dari awal hingga akhir, atau menuliskan pokok – pokok kegiatan yang menarik untuk diberitakan, tidak. Pada catatan bukan jurnal ini penulis hanya menyajikan manfaat kegiatan tersebut dari aspek pendidikan terutama terkait tumbuh kembang secara umum dan singkat.

Baca Tentang TUMBUH KEMBANG

Bukan hanya tumbuh kembang untuk anak, pada orang tua pun akan penulis sampaikan, karena orang dewasa kondisi dirinya juga terus bertumbuh dan berkembang terutama pikiran, qolbu, badan, dan perutnya hehehe.

Agar pembahasannya tidak terlalu lebar dan banyak seperti perumahan pesona kahuripan, penulis membatasi bahasan aspek tumbuh kembangnya hanya 3 aspek saja yaitu emosional, interaksi sosial, dan fisik motorik.

Pertama, aspek emosional. Aspek tumbuh kembang ini sangat penting. Kata para pakar pendidikan dan psikologi suksesnya seseorang sangat ditentukan oleh aspek emosionalnya.

Pada kegiatan warga lorong 17 dan 18 ini stimulasi pada aspek emosionalnya sangat terlihat pada ibu – ibu dan para bapak. Untuk para ibu terstimulasinya mulai dari merencanakan dan mempersiapkan kebutuhan acara seperti kaos, konsumsi, hingga bingkisan untuk acara tuker kado. Betapa sabarnya mereka memenuhi semua kebutuhan itu tanpa bantuan bapak – bapak apalagi bapak Presiden.

Adapun pada bapak – bapak, stimulasi emosionalnya mulai terlihat saat perjalanan melintasi Desa Suka Makmur terutama yang mengendarai mobil. Mereka harus sabar dan ekstra hati – hati ketika melalui jalanan Suka Makmur yang terkenal ekstrem. Kejadian ketika di tanjakan 2000 ada salah satu mobil rombongan yang kesulitan nanjak sehingga harus  didorong. Dengan penuh kesabaran dan kegigihan Pak Ahmad Jazuli yang merupakan Ketua RW di PK 4 dan Pak Sidik membantu mobil tersebut, setelah mobil berhasil melaju, mereka berdua jalan kaki di tanjakan yang terkenal terjal itu. Apa yang mereka lakukan menunjukkan perkembangan emosional yang sangat baik. Mereka berdua sangat sabar membantu mobil yang mogok kemudian berjalan kaki, bapak – bapak yang sudah sampai di atas pun sabar menunggu mereka berdua berjalan menaiki tanjakan yang terjal. Ibu – ibu dan anak – anak juga sabar menunggu pak RW dan pak Sidik yang telihat ngos – ngosan menapaki jalan menanjak.

Anak –anak aspek emosionalnya terstimulus dengan baik bukan saat perjalanan saja, tetapi ketika mengikuti lomba mulai dari lomba memindahkan bola warna – warni, makan es krim, nahan ketawa, memasukan paku ke botol menggunakan pancingan leyot (mincing emosi), fun game dan memindahkan air.

Kedua, Interaksi Sosial.  Aspek perkembangan ini juga sangat penting. Orang – orang sukses pasti cerdas berinteraksi sosial.  Sesuai dengan tujuan diadakannya kegiatan ini yaitu untuk menambah keakraban antar warga, maka sudah dipastikan aspek ini sangat terstimulus mulai dari perencanaan, persiapan, keberangkatan, acara, dan perjalanan kembali ke Perumahan Pesona Kahuripan 4 tercinta.

Pada anak – anak aspek perkembangan ini sangat terstimulus, terutama mereka yang jarang keluar rumah, ketika mengikuti kegiatan ini mereka jadi berinteraksi sesama mereka walau masih malu – malu atau jaim. Wajar dan itu sesuai dengan tahapan perkembangan interaksi sosial pada anak. 

Ketiga, Fisik Motorik.  Aspek perkembangan ini sudah pasti terstimulus dengan baik mulai dari keberangkatan hingga kembali ke rumah, apalagi pada kegiatan ini ada Senam Bersama di pagi hari yang dipandu oleh Instruktur senam berpengalaman yaitu Bapak Sidik. Bukan hanya itu, anak – anak, ibu – ibu fisik motoriknya juga terstimulus pada kegiatan berenang dan fun game.

Adapun bapak – bapak terstimulus dengan sangat baik bukan saat senam, main bola, bakar jagung, biliar, dan di kolam renang saja, pada saat lomba perkembangan fisik motorik mereka juga terstimulus dengan sangat baik bahkan mereka mempu memadukannya dengan aspek emosional dan fokus, berikut videonya :

 

                                                        (Video Bapak - Bapak Lomba Pake Celana Tanpa Tangan)

Demikianlah kegiatan warga lorong 17 – 18 Blok A Perumahan Pesona Kahuripan 4 dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 81 yang bermanfaat terutama untuk menstimulasi aspek tumbuh kembang fisik motorik, emosional, dan interkasi sosial. Semoga tahun depan semua warga lorong 17 - 18 bisa ikut, lebih meriah dan kompak lagi, Aaamin.

 

Oleh : Firman Mudiana Fajar,S.Pd.I, M.Pd

Warga Baru Perumahan Pesona Kahuripan 4

Klapa Nunggal – Bogor

Jawa Barat

 

 

 

Selasa, 25 Agustus 2026

ORANG TUA YANG ANAKNYA RAJIN SHOLAT DI MASJID BISA BERDOSA

 


Masjid adalah tempat ibadah umat Islam dan sangat dianjurkan untuk melaksanakan sholat berjamaah di dalamnya sehari lima waktu, tanpa disadari banyak orang tua yang berdosa karena anak – anaknya sering sholat berjamaah terutama waktu Magrib.

Memakmurkan Masjid dengan sholat berjamaah sangatlah dianjurkan dan sangat bernilai tinggi, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam :

"Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian (munfarid) dengan 27 derajat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Allah Subhanahu Wataala menyebut orang yang memakmurkan Masjid adalah orang – orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir :

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 18)

Karena itu banyak umat Islam berusaha melaksanakan Sholat secara berjamaah di Masjid dan tentunya mereka mengingikan suasana yang khusyu, tenang, dan hikmat ketika beribadah sakral tersebut.

Namun sayang tidak jarang kekhusyuan mereka terganggu oleh suara anak – anak kecil yang ikut sholat berjamaah di Masjid tanpa pendampingan orang tua.Mereka bukan hanya mengobrol, mereka juga bercanda fisik yang sangat mengganggu jamaah dewasa, bahkan mengotori Masjid.

Pada dasarnya membawa anak – anak ke Masjid diperbolehkan guna memberikan pendidikan dan pembiasaan pada anak, agar mereka memiliki kebiasaan yang positif ketika waktu sholat tiba langsung melaksanakannya dan mengenal Masjid sebagai tempat ibadah kepada sang penciptanya.

Bahkan orang tua berkewajiban mendidik anaknya untuk melaksanakan sholat sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan sholat saat usia mereka tujuh tahun…” (HR. Ahmad).

Dengan kata lain, membawa anak ke Masjid diperbolehkan dengan syarat yaitu :

  1.  Anak sudah mumayyiz yaitu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.
  2. Orang tua wajib mendampingi dan mengawasi anak selama berada di masjid.
  3. Pastikan anak tidak mengganggu ketenangan dan kekhusyuan jamaah lainnya
  4. Ajarkan anak tentang adab – adab di dalam Masjid

Adapun anak – anak yang sering sholat berjamaah di Masjid tanpa pendampingan orang tua, terutama yang paling ramai di waktu sholat magrib, maka orang tuanya “berdosa” sebagaimana Fatwa ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang mengatakan jika anak belum tamyiz (belum bisa membedakan baik dan buruk) dan berpotensi membuat gaduh, lari-lari, atau mengotori masjid, maka orang tua berdosa jika membiarkannya mengganggu jamaah (tidak mendampingi/mengawasi).

Wallahu Alam

Firman Mudiana Fajar,S.Pd.I,M.Pd

Klapa Nunggal

Bogor - Jawa Barat


Selasa, 02 Januari 2024

Cerita Liburan yang Terdiferensiasi dan Menstimulasi Perkembangan Literasi

 

Pada Capaian Pembelajaran (CP) PAUD elemen dasar-dasar literasi terdapat sub elemen yang berbunyi “Anak mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media, serta membangun percakapan.” Kemudian dijadikan tujuan pembalajaran (TP) sehingga berbunyi “Anak mampu mengenali dan memahami berbagai informasi dan mengomunikasikannya dengan berbagai media.” TP inilah yang akan dirangkai menjadi pembelajaran terdiferensiasi pada awal semester genap.

Pada hari ini, Selasa 02 Januari 2024, merupakan awal masuk peserta didik setelah libur semester 1. Siswa-siswa TK Islam PB Soedirman terutama kelas B3 tempat penulis mengajar 97% hadir mengikuti KBM. Terlihat mereka sangat antusias berinteraksi dengan teman dan guru yang telah lama tidak bertemu. Mereka saling bercerita pengalaman liburan masing-masing.

Saya sebagai guru faham akan situasi dan kondisi tersebut. Karenanya, lima hari sebelumnya kami telah merancang kegiatan pembelajaran untuk satu pekan pertama bersekolah. Saya dan rekan menyusun kegiatan untuk hari ini yang menyenangkan dan sesuai dengan apa yang masih melekat kuat pada memori mereka yaitu liburan.

Kegiatannya sederhana namun tetap mengedepankan diferensiasi pembelajara, yaitu cerita liburan sekolah. Para peserta didik diminta untuk bercerita secara lisan satu persatu. Mereka bercerita sesuai dengan perkembangan bahasanya. Ada yang tiga kata, lima kata, ada yang berkata-kata. Ada juga yang perlu diberikan pijakan agar mampu mengeluarkan kata yang terpedam di memorinya.

Setelah itu mereka diminta untuk menggambar suasana dan tempat liburan sebagaimana yang mereka ceritakan sebelumnya. Di meja sudah tersedia kertas A4, pensil, krayon, spidol kecil, dan pensil warna. Beragam alat untuk menggambar ini menunjukkan diferensiasi pada media pembelajaran. Karena media pembelajaran beragam, proses yang dilakukan peserta didik pun beragam. Ada yang menggambar menggunakan krayon dan pensil. Ada yang hanya menggunakan spidol warna, ada yang menggunakan pensil warna, bahkan ada juga yang menggambar hanya menggunakan pensil.

Media pembelajaran beragam, proses menggambarnya bervariasi, cerita lisan bervariasi, hasil gambarnya pun sudah pasti bervariasi. Pada kegiatan ini kemampuan literasi peserta didik dalam hal mengenali dan memahami berbagai informasi dan mengomunikasikannya dengan berbagai media dapat terstimulus, termasuk perkembangan fisik motorik terutama motorik halus ikut terstimulus dengan halus.