Selasa, 02 Januari 2024

Cerita Liburan yang Terdiferensiasi dan Menstimulasi Perkembangan Literasi

 

Pada Capaian Pembelajaran (CP) PAUD elemen dasar-dasar literasi terdapat sub elemen yang berbunyi “Anak mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media, serta membangun percakapan.” Kemudian dijadikan tujuan pembalajaran (TP) sehingga berbunyi “Anak mampu mengenali dan memahami berbagai informasi dan mengomunikasikannya dengan berbagai media.” TP inilah yang akan dirangkai menjadi pembelajaran terdiferensiasi pada awal semester genap.

Pada hari ini, Selasa 02 Januari 2024, merupakan awal masuk peserta didik setelah libur semester 1. Siswa-siswa TK Islam PB Soedirman terutama kelas B3 tempat penulis mengajar 97% hadir mengikuti KBM. Terlihat mereka sangat antusias berinteraksi dengan teman dan guru yang telah lama tidak bertemu. Mereka saling bercerita pengalaman liburan masing-masing.

Saya sebagai guru faham akan situasi dan kondisi tersebut. Karenanya, lima hari sebelumnya kami telah merancang kegiatan pembelajaran untuk satu pekan pertama bersekolah. Saya dan rekan menyusun kegiatan untuk hari ini yang menyenangkan dan sesuai dengan apa yang masih melekat kuat pada memori mereka yaitu liburan.

Kegiatannya sederhana namun tetap mengedepankan diferensiasi pembelajara, yaitu cerita liburan sekolah. Para peserta didik diminta untuk bercerita secara lisan satu persatu. Mereka bercerita sesuai dengan perkembangan bahasanya. Ada yang tiga kata, lima kata, ada yang berkata-kata. Ada juga yang perlu diberikan pijakan agar mampu mengeluarkan kata yang terpedam di memorinya.

Setelah itu mereka diminta untuk menggambar suasana dan tempat liburan sebagaimana yang mereka ceritakan sebelumnya. Di meja sudah tersedia kertas A4, pensil, krayon, spidol kecil, dan pensil warna. Beragam alat untuk menggambar ini menunjukkan diferensiasi pada media pembelajaran. Karena media pembelajaran beragam, proses yang dilakukan peserta didik pun beragam. Ada yang menggambar menggunakan krayon dan pensil. Ada yang hanya menggunakan spidol warna, ada yang menggunakan pensil warna, bahkan ada juga yang menggambar hanya menggunakan pensil.

Media pembelajaran beragam, proses menggambarnya bervariasi, cerita lisan bervariasi, hasil gambarnya pun sudah pasti bervariasi. Pada kegiatan ini kemampuan literasi peserta didik dalam hal mengenali dan memahami berbagai informasi dan mengomunikasikannya dengan berbagai media dapat terstimulus, termasuk perkembangan fisik motorik terutama motorik halus ikut terstimulus dengan halus.

Jumat, 28 April 2023

Milenial Kolonial

 


Ketika bersilaturahmi saya sering mendengar pertanyaan yang ditujukan kepada generasi milenial. “Udah kerja apa belom?”. Dengan polosnya mereka menjawab  “belom, lagi ngelamar-ngelamar di pabrik sama di perusahaan  cuma belom dapet.”  Begitulah jawaban generasi milenial berpikiran kolonial.

Kita semua tahu zaman sekarang adalah era digital. Beberapa aktifitas dunia nyata sudah bergeser menjadi kegiatan dunia maya. Bukan saja kegiatan kosong tanpa hasil, banyak kesibukan di dunia maya yang bisa menghasilkan keuntungan nyata. 

Pada era kolonial (red : sebelum milenial. Hanya sebutan untuk memudahkan) untuk membeli kebutuhan kita harus keluar  rumah menuju pasar atau swalayan. Kini di era digital aktifitas tersebut sudah bergeser, aneka kebutuhan sudah ada di genggaman tangan, tinggal klik barang yang diinginkan siap dikirim ke rumah kita.

Bukan hanya barang kebutuhan yang bisa kita dapatkan dari dunia maya. Kita pun bisa memperoleh hiburan yang beraneka ragam, informasi, edukasi, promosi, hingga ceramah religi dari para konten kreator yang sangat kreatif.

Karena begitu banyaknya aktifitas di dunia maya itu, maka banyak pula lapangan pekerjaan baru yang berbeda pada era kolonial. Bukan  hanya konten kreator, youtuber, atau tiktoker.  Sangat beragam pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa perlu keluar rumah, kerja di kantor, atau di pabrik.

Pada era digital tidak sedikit orang memiliki penghasilan melimpah tanpa keluar rumah. Bahkan penghasilan mereka bisa mengungguli orang-orang yang berkerja dari gelap pagi hingga gelap lagi. Modal mereka hanya HP dan kemauan. 

Mereka yang sudah punya pekerjaan di dunia nyata pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari dunia maya tanpa modal, salah satunya jadi affiliator. Penghasilannya rumayan, saya sudah buktikan.hehehe☺️

Bekerja itukan tujuannya mencari penghasilan yang halal. Prinsipnya asal mau, teknisnya bisa dipelajari. Kalau dengan klik-klik bisa menghasilkan, kenapa juga harus bawa-bawa surat lamaran seperti era kolonial. Jadilah milenial yang pemikirannya digital, bukan kolonial.

Ini juga jawaban untuk para generasai kolonial yang sering bertanya-tanya tentang orang yang tidak pernah keluar rumah tapi punya penghasilan hingga bisa beli barang mewah. Karena ini zaman milenial bukan kolonial.


Wallahu’alam

Wallahu’alam

7 Syawal 1444 H/28 April 2023

Kelapa Dua Wetan 10/11/49 Ciracas Jakarta Timur

(Fajar,M.Pd. Akun Youtube, IG, tiktok : Aa Fajar Paud, Blog : www.aafajarpaud.com)

Rabu, 26 April 2023

What’s Wrong, What’s Right

 


Ketika saya mengikuti International Conference on the Future of Education (InConFed ke 2) di Penang Malaysia. Saat Istirahat, sambil menikmati hidangan Hotel Bintang 5, saya ngobrol dengan salah satu peserta dari Amerika Serikat. Katanya mayoritas orang tua lebih suka mengatakan "What’s wrong with you?” dari pada “What’s right with you?” kepada anaknya.

Dia mengungkapkan ada penelitian pada tahun 2000an dengan mengajukan pertanyaan sederhana kepada orang tua  di USA “ketika anak anda pulang dari sekolah membawa hasil ujian dari tiga mata pelajaran dengan masing-masing nilai 10, 7, dan 5. Nilai mana yang paling berhak mendapat perhatian?.”

Para orang tua di USA  memberikan jawaban dan hasilnya 77%  perhatian terbesar pada nilai 5 dan hanya ada 7 orang yang perhatian pada nilai 10. Artinya mayoritas orang tua lebih memperhatikan kekurangan anaknya daripada kelebihannya.

Saya teringat obrolan itu, karena beberapa hari ini banyak orang tua yang curhat tentang kondisi anaknya yang hendak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Curhatan mereka menggambarkan keadaan diri yang mirip dengan para orang tua yang diceritakan peserta seminar Internasional pendidikan di Penang yang saya ikuti selama lima hari di tahun 2018 silam itu.

Mayoritas orang tua, semoga kita tidak termasuk di dalamnya, khawatir dengan kekurangan anaknya pada mata pelajaran atau skill tertentu. Ironisnya mereka menganggap anaknya bodoh. Celakanya, untuk menutupi kekurangan anaknya itu mereka “memaksa” anaknya mengikuti berbagai les yang pada dasarnya tidak disukai oleh anak. Kalau anak suka pasti nilai ujiannya bagus.

Hanya sedikit orang tua, semoga kita termasuk yang sedikit ini, yang melihat kelebihan yang ada pada anaknya dan mengabaikan kekurangannya. Mereka sadar setiap anak adalah unik, memiliki kelebihan tersendiri, dan durasi kesuksesan yang berbeda. Orang tua seperti ini  faham bahwa ikan tidak bisa diajarkan terbang apalagi manjat pohon, atau berlari seperti kuda.

Orang tua yang melihat kelebihan pada anaknya sangat faham dan mengimani bahwa sang pencipta tidak memberikan “Wrong”  (kekurangan) semata pada diri anaknya, melainkan ada  “Right” (kelebihan), sebuah potensi yang setiap individu berbeda. Sebagaimana firmannya :

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا

Artinya : Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaanya masing-masing.”Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS.Al-Isra Ayat 84).

Semoga kita termasuk orang tua yang bangga dengan kelebihan anaknya pada bidang olahraga, tata boga, seni, atau agama walau nilai matematika, Bahasa Inggris, dan lainnya rendah. Bukan orang tua yang galau karena anaknya pada kelas 1 SD belum bisa baca, tulis, dan berhitung.


Wallahu’alam

5 Syawal 1444 H/26 April 2023

Kelapa Dua Wetan 10/11/49 Ciracas Jakarta Timur

(Fajar,M.Pd. Akun Youtube, IG, Tikto : Aa Fajar Paud, Blog ; www.aafajarpaud.com)