Selasa, 25 Agustus 2026

ORANG TUA YANG ANAKNYA RAJIN SHOLAT DI MASJID BISA BERDOSA

 


Masjid adalah tempat ibadah umat Islam dan sangat dianjurkan untuk melaksanakan sholat berjamaah di dalamnya sehari lima waktu, tanpa disadari banyak orang tua yang berdosa karena anak – anaknya sering sholat berjamaah terutama waktu Magrib.

Memakmurkan Masjid dengan sholat berjamaah sangatlah dianjurkan dan sangat bernilai tinggi, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam :

"Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian (munfarid) dengan 27 derajat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Allah Subhanahu Wataala menyebut orang yang memakmurkan Masjid adalah orang – orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir :

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 18)

Karena itu banyak umat Islam berusaha melaksanakan Sholat secara berjamaah di Masjid dan tentunya mereka mengingikan suasana yang khusyu, tenang, dan hikmat ketika beribadah sakral tersebut.

Namun sayang tidak jarang kekhusyuan mereka terganggu oleh suara anak – anak kecil yang ikut sholat berjamaah di Masjid tanpa pendampingan orang tua.Mereka bukan hanya mengobrol, mereka juga bercanda fisik yang sangat mengganggu jamaah dewasa, bahkan mengotori Masjid.

Pada dasarnya membawa anak – anak ke Masjid diperbolehkan guna memberikan pendidikan dan pembiasaan pada anak, agar mereka memiliki kebiasaan yang positif ketika waktu sholat tiba langsung melaksanakannya dan mengenal Masjid sebagai tempat ibadah kepada sang penciptanya.

Bahkan orang tua berkewajiban mendidik anaknya untuk melaksanakan sholat sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan sholat saat usia mereka tujuh tahun…” (HR. Ahmad).

Dengan kata lain, membawa anak ke Masjid diperbolehkan dengan syarat yaitu :

  1.  Anak sudah mumayyiz yaitu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.
  2. Orang tua wajib mendampingi dan mengawasi anak selama berada di masjid.
  3. Pastikan anak tidak mengganggu ketenangan dan kekhusyuan jamaah lainnya
  4. Ajarkan anak tentang adab – adab di dalam Masjid

Adapun anak – anak yang sering sholat berjamaah di Masjid tanpa pendampingan orang tua, terutama yang paling ramai di waktu sholat magrib, maka orang tuanya “berdosa” sebagaimana Fatwa ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang mengatakan jika anak belum tamyiz (belum bisa membedakan baik dan buruk) dan berpotensi membuat gaduh, lari-lari, atau mengotori masjid, maka orang tua berdosa jika membiarkannya mengganggu jamaah (tidak mendampingi/mengawasi).

Wallahu Alam

Firman Mudiana Fajar,S.Pd.I,M.Pd

Klapa Nunggal

Bogor - Jawa Barat


Selasa, 02 Januari 2024

Cerita Liburan yang Terdiferensiasi dan Menstimulasi Perkembangan Literasi

 

Pada Capaian Pembelajaran (CP) PAUD elemen dasar-dasar literasi terdapat sub elemen yang berbunyi “Anak mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media, serta membangun percakapan.” Kemudian dijadikan tujuan pembalajaran (TP) sehingga berbunyi “Anak mampu mengenali dan memahami berbagai informasi dan mengomunikasikannya dengan berbagai media.” TP inilah yang akan dirangkai menjadi pembelajaran terdiferensiasi pada awal semester genap.

Pada hari ini, Selasa 02 Januari 2024, merupakan awal masuk peserta didik setelah libur semester 1. Siswa-siswa TK Islam PB Soedirman terutama kelas B3 tempat penulis mengajar 97% hadir mengikuti KBM. Terlihat mereka sangat antusias berinteraksi dengan teman dan guru yang telah lama tidak bertemu. Mereka saling bercerita pengalaman liburan masing-masing.

Saya sebagai guru faham akan situasi dan kondisi tersebut. Karenanya, lima hari sebelumnya kami telah merancang kegiatan pembelajaran untuk satu pekan pertama bersekolah. Saya dan rekan menyusun kegiatan untuk hari ini yang menyenangkan dan sesuai dengan apa yang masih melekat kuat pada memori mereka yaitu liburan.

Kegiatannya sederhana namun tetap mengedepankan diferensiasi pembelajara, yaitu cerita liburan sekolah. Para peserta didik diminta untuk bercerita secara lisan satu persatu. Mereka bercerita sesuai dengan perkembangan bahasanya. Ada yang tiga kata, lima kata, ada yang berkata-kata. Ada juga yang perlu diberikan pijakan agar mampu mengeluarkan kata yang terpedam di memorinya.

Setelah itu mereka diminta untuk menggambar suasana dan tempat liburan sebagaimana yang mereka ceritakan sebelumnya. Di meja sudah tersedia kertas A4, pensil, krayon, spidol kecil, dan pensil warna. Beragam alat untuk menggambar ini menunjukkan diferensiasi pada media pembelajaran. Karena media pembelajaran beragam, proses yang dilakukan peserta didik pun beragam. Ada yang menggambar menggunakan krayon dan pensil. Ada yang hanya menggunakan spidol warna, ada yang menggunakan pensil warna, bahkan ada juga yang menggambar hanya menggunakan pensil.

Media pembelajaran beragam, proses menggambarnya bervariasi, cerita lisan bervariasi, hasil gambarnya pun sudah pasti bervariasi. Pada kegiatan ini kemampuan literasi peserta didik dalam hal mengenali dan memahami berbagai informasi dan mengomunikasikannya dengan berbagai media dapat terstimulus, termasuk perkembangan fisik motorik terutama motorik halus ikut terstimulus dengan halus.

Jumat, 28 April 2023

Milenial Kolonial

 


Ketika bersilaturahmi saya sering mendengar pertanyaan yang ditujukan kepada generasi milenial. “Udah kerja apa belom?”. Dengan polosnya mereka menjawab  “belom, lagi ngelamar-ngelamar di pabrik sama di perusahaan  cuma belom dapet.”  Begitulah jawaban generasi milenial berpikiran kolonial.

Kita semua tahu zaman sekarang adalah era digital. Beberapa aktifitas dunia nyata sudah bergeser menjadi kegiatan dunia maya. Bukan saja kegiatan kosong tanpa hasil, banyak kesibukan di dunia maya yang bisa menghasilkan keuntungan nyata. 

Pada era kolonial (red : sebelum milenial. Hanya sebutan untuk memudahkan) untuk membeli kebutuhan kita harus keluar  rumah menuju pasar atau swalayan. Kini di era digital aktifitas tersebut sudah bergeser, aneka kebutuhan sudah ada di genggaman tangan, tinggal klik barang yang diinginkan siap dikirim ke rumah kita.

Bukan hanya barang kebutuhan yang bisa kita dapatkan dari dunia maya. Kita pun bisa memperoleh hiburan yang beraneka ragam, informasi, edukasi, promosi, hingga ceramah religi dari para konten kreator yang sangat kreatif.

Karena begitu banyaknya aktifitas di dunia maya itu, maka banyak pula lapangan pekerjaan baru yang berbeda pada era kolonial. Bukan  hanya konten kreator, youtuber, atau tiktoker.  Sangat beragam pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa perlu keluar rumah, kerja di kantor, atau di pabrik.

Pada era digital tidak sedikit orang memiliki penghasilan melimpah tanpa keluar rumah. Bahkan penghasilan mereka bisa mengungguli orang-orang yang berkerja dari gelap pagi hingga gelap lagi. Modal mereka hanya HP dan kemauan. 

Mereka yang sudah punya pekerjaan di dunia nyata pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari dunia maya tanpa modal, salah satunya jadi affiliator. Penghasilannya rumayan, saya sudah buktikan.hehehe☺️

Bekerja itukan tujuannya mencari penghasilan yang halal. Prinsipnya asal mau, teknisnya bisa dipelajari. Kalau dengan klik-klik bisa menghasilkan, kenapa juga harus bawa-bawa surat lamaran seperti era kolonial. Jadilah milenial yang pemikirannya digital, bukan kolonial.

Ini juga jawaban untuk para generasai kolonial yang sering bertanya-tanya tentang orang yang tidak pernah keluar rumah tapi punya penghasilan hingga bisa beli barang mewah. Karena ini zaman milenial bukan kolonial.


Wallahu’alam

Wallahu’alam

7 Syawal 1444 H/28 April 2023

Kelapa Dua Wetan 10/11/49 Ciracas Jakarta Timur

(Fajar,M.Pd. Akun Youtube, IG, tiktok : Aa Fajar Paud, Blog : www.aafajarpaud.com)